Minggu, 14 Agustus 2011

hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan ANC di desa karangreja kecamatan kutasari kabupaten purbalingga tahun 2011


HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) DI DESA KARANGREJA KECAMATAN KUTASARI KABUPATEN PURBALINGGA
TAHUN 2011

  INTISARI

Hidayatun Mukaromah, Eman Sutrisna, Sri Wahyuni


Tingginya angka kematian ibu dan kematian bayi menunjukkan masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan. Angka Kematian ibu yang tinggi, sebenarnya dapat dicegah melalui salah satu cara atau kegiatan efektif seperti pemeriksaan kehamilan yang baik dan sesuai dengan standart yang disebut Antenatal Care (ANC) secara rutin, sehingga mendapatkan hasil yang bermutu. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan ANC Desa Karangreja Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga.
Metode : penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dengan cara total sampling. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 36 ibu hamil.
Hasil Penelitian : Pada penelitian ini ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan antenatal cere (ANC) di Desa Karangreja Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga tahun 2011 diperoleh nilai x2 hitung (12.750) lebih besar dari x2 tabel (5,991) hal ini menunjukan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak artinya ada hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan ANC. 
Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan ANC di desa Karangreja Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga tahun 2011.

Kata Kunci : Tingkat pengetahuan ibu, Kunjungan antenatal care















LEVEL KNOWLEDGE RELATIONSHIP WITH PREGNANT WOMEN CARE ANTENATAL CARE (ANC) KARANGREJA IN THE VILLAGE DISTRICT DISTRICT KUTASARI PURBALINGGA
YEAR 2011


  ABSTRAC

Hidayatun Mukaromah, Eman Sutrisna, Sri Wahyuni



The high number of mother and infant mortality shows the low quality of health services. The high number of mortality, in fact, can be prevented through an effective way such as a routine check up based on a standardized care called Antenatal Care (ANC), Therefore, a good result can be obtained through the examination.The purpose of this study was to determine the level of knowledge of pregnant women with ANC visits Karangreja Village District Kutasari Purbalingga.
Methods: This study is an analytical research with cross sectional design. Sampling by the total sampling. The sample size in this study were 36 pregnant women.
Research Findings: The study found a statistically significant relationship between level of knowledge of pregnant women with antenatal visit CERE (ANC) in the Village District Karangreja Kutasari Purbalingga in 2011 obtained the value x2 count (12 750) is greater than x2 table (5.991) this show that Ha is received and Ho is rejected it means there is a relationship level of knowledge of pregnant women with ANC visits.

Conclusion: There is a significant level of knowledge of pregnant women with ANC visits in the village Karangreja Kutasari Purbalingga District in 2011.


Keywords: level of knowledge of maternal, antenatal care visits



 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Menurut Federasi Obstetri Ginekoloigi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari fase fertilitas hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan berlangsung dalam tiga trimester, trimester satu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40) (Prawirohardjo, 2009)
Manusia pada dasarnya selalu ingin tahu yang benar, untuk memenuhi rasa ingin tahu ini, manusia sejak jaman dahulu telah berusaha mengumpulkan pengetahuan. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun melalui pengalaman orang lain (Notoatmodjo, 2005)
Menurut World Health Organization (WHO) kematian maternal ialah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengahiri kehamilan. Angka kematian yang tinggi setengah abad yang lalu umumnya mempunyai dua sebab pokok yaitu, masih kurangnya pengetahuan mengenai sebab-sebab dan penaggulangan komplikasi-komplikasi penting dalam kehamilan, persalinan, serta nifas. Kurangnya pengertian dan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, dan kurang meratanya pelayanan kebidanan yang baik bagi semua yang hamil (Prawirohardjo, 2009)
Millenium Development Goals (MDGs) 2008, terdapat Delapan tujuan  salah satu tujuanya yaitu Meningkatkan Kesehatan Ibu yang terdapat dalam tujuan ke 5A. Setiap tahun sekitar 20.000 perempuan di Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan. Target MDGs adalah sekitar 110/100.000 kelahiran. Dalam target 5A menurunkan Angka Kematian Ibu  dari tahun 1990, 390/100.000 kelahiran, saat ini menjadi 307/100.000 kelahiran, dan target 2015 yaitu 110/100.000 kelahiran (Stakler, 2008)
Di Indonesia AKI masih cukup tinggi 307/100.000 kelahiran hidup. Jauh dibawah target nasional yaitu 102/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah Angka Kematian Ibu (AKI) 115/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2008, mengalami penurunan sebesar 98/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2009 (Dinas Provinsi Jawa Tengah, 2010). Di Kabupaten Purbalingga jumlah AKI tahun 2009 mencapai 122/100.000 kelahiran hidup.
Upaya konkrit yang dilakukan pemerintah dalam hal ini sesuai dengan Departeman Kesehatan Republik Indonesia untuk menurunkan AKI adalah dengan menetapkan bidan sebagai unjung tombak pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Dalam meningkatkan pelayanan, para bidan harus bekerja secara professional yaitu dengan pemberian pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah. Peran bidan sebagai pusat pelayanan kesehatan ibu diseluruh penjuru tanah air dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu selama Antenatal Care (ANC) telah menunjukan hasil yang baik. Kompetensi yang  harus dimiliki bidan dalam memberikan asuhan antenatal adalah kemampuan untuk mengetahui kesejahteraan ibu serta bayinya, dan mendeteksi komplikasi pada ibu dan janinya.
Menurut Depkes RI (2004) Pelayanan antenatal adalah pemeriksaan kesehatan ibu hamil sesuai standar pada masa kehamilan oleh tenaga kesehatan yang terampil dan professional (dokter spesialis, bidan, perawat). Kunjungan antenatal yang ditetapkan pemerintah pusat selama kehamilan minimal empat kali kunjungan dengan frekuensi satu kali pada trimester pertama (K1), satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga (K4). Standar pelayanan ANC meliputi 7T yaitu, timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, ukur TFU, pemberian imunisasi TT, Tablet Fe, Temu wicara (Saefuddin, 2006)
Melakukan asuhan antenatal care yang sesuai, diperlukan untuk mengenali perubahan fisiologik yang terkait dengan proses kehamilan. Dengan pemeriksaan  tersebut, penolong atau petugas kesehatan dapat mengambil tindakan yang tepat dan perlu untuk memperoleh luaran yang optimal dari kehamilan dan persalinan (Prawirohardjo, 2009)
Di Indonesia target cakupan ANC sebesar 84%. Presentase cakupan kunjungan ibu hamil K1 dan K4 dari tahun 2004-2009 terus meningkat. Pada tahun 2009 K4 tertinggi adalah DKI Jakarta (96,53%) dan yang terendah adalah Papua Barat (10,55%). Sejak tahun 2004-2009 kesenjangan anatara K1 dan K4 cenderung menyempit, artinya ibu hamil yang melakukan pemeriksaan pertama (K1) terus melanjutkan kunjungan ke-4 (K4) (Pusat Data dan Survelialis Epidimiologi, 2009)
Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah 79,21%, dengan rentang antara yang terrendah 21,06% (Kabupaten Tegal) dengan yang tertinggi 96,63% (Kabupaten Demak). Target K4 Propinsi Jawa Tengah tahun 2006 sebesar 80%, maka terdapat 24 dari 35 kabupaten/kota atau 68,57% yang berhasil mencapai target, sedangkan 11 kabupaten/kota lainnya atau 31,43% masih di bawah target, salah satunya yaitu Kabupaten Purbalingga, (Edy, 2007)
Kabupaten Purbalingga target ANC 95%, dari 18 Kecamatan di Purbalingga Kecamatan Kalimanah paling tinggi pencapaian K4 (99,7%) dari 780 ibu hamil dan yang terendah Kecamatan Pegadegan (64,6%) dari 490 ibu hamil. Kecamatan Kutasari target ANC 95%  tahun 2009 terdapat 1169 ibu hamil cakupan K1 (97,5%) dari 1140 ibu hamil, K4 (97,6%) dari 1141 ibu hamil (Profil DKK Purbalingga 2009).
Dari 14 desa di Kecamatan Kutasari desa Karangreja pada tahun 2009 sasaran 92 ibu hamil, K1 cakupan (108%), K4 cakupan (107,6%). Pada tahun 2010 sasaran ibu hamil 192, K1 cakupan (97,05%), K4 cakupan (96,07%) (PKD Desa Karangreja, 2009).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Dengan Kunjungan  Antenatal Care (ANC) di Desa Karangreja Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga Tahun 2011”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan urian diatas, rumusan maslah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimana tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan ANC di Desa Karangreja Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga tahun 2011.
2.      Adakah  hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan  kesesuaian kunjungan ANC di Desa Karangreja Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga tahun 2011.
C.    Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan  antenatal care (ANC) di Desa Karangreja Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga Tahun 2011
2.   Tujuan Khusus
a.       Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang antenatal care di desa Karangreja Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga
b.      Mengetahui tingkat kunjungan ANC ibu hamil di desa Karangreja Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga
c.       Menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kunjungan antenatal care (ANC)
D.    Manfaat Penelitian
1.    Bagi Institusi
Sebagai bahan pustaka atau referensi bagi peneliti selanjutnya, di harapkan akan memberikan manfaat sebagai bahan masukan dan pengetahuan bagi mahasiswi.
2.      Bagi Ibu Hamil
Meningkatkan pengetahuan ibu hamil terutama dalam hal pemeriksaan kehamilan (ANC) sehingga kesadaran ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan dengan sesuai.
3.      Bagi Penulis
Menerapkan metodelogi penelitian dan memperdalam pengetahuan serta menambah keterampilan peneliti dalam hal pemeriksaan antenatal sehingga nantinya dapat digunakan sebagai bekal peneliti dalam memberikan pelayanan ANC pada pasien.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengetahuan
1.      Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan pengindaraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terhadap objek yang tejadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pengindraan, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap suatu objek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo, 2002).
Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubunganya dengan pendidikan, dimana diharapkan dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuanya. Pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan formal saja, akan tetapi dapat diperoleh melalui pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap yang makin positif terhadap objek tertentu. salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh  dari pengalaman sendiri. (Wawan dan Dewi, 2010)
2.      Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2002) pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :
a.       Tahu (know)
Tahu adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Tahu diartikan sebagai suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b.      Memahami (Comprehention)
Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dimana dapat menginterprestasikan secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi terus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap suatu objek yang dipelajari.
c.       Aplikasi (application)
Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi ini biasa diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.
d.      Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjalankan materi objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja, dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
e.       Sintesis (syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan dan menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
f.       Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

3.      Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo, cara memperoleh pengetahuan adalah:
a.    Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan
1)      Cara coba salah (Trial and Error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan mungkin sebelumnya adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan ini tidak berhasil maka dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
2)      Cara kekuasaan atau otoritas
Sumber pengetahuan ini dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik yang formal atau informal, ahli agama, pemegang pemerintahan, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai yang dikemukakan oleh yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenaranya baik berdasaraknn fakta empiris maupun penalaran sendiri.
3)      Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadipun dapat digumakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi masa lalu.


b.    Cara modern untuk memperoleh pengetahuan
Menurut Francis Bacon (1561-1626). Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau yang lebih popular atau disebut metedologi penelitian. Cara ini kemudian dikembangkan Deobold Van Daven yang dikenal dengan penelitian ilmiah. (Notoatmodjo, 2007)
4.      Proses Perilaku “TAHU”
Menurut Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berprilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:
a.          Awareness (kesadaran), diman orang terseebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulasi (objek).
b.         Interest (merasa tertarik) terhadap stimulasi atau objek tersebut. Disini sikap subjek sudah mulai timbul.
c.          Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulasi tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d.         Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
e.          Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rongers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut, (Notoatmodjo, 2007)
5.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
a.       Faktor Internal
1)         Pendidikan
Menurut Wied Hary A (1996) yang menyebutkan bahwa tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik pula pengetahuanya (Notoatmodjo, 2007)
2)         Pekerjaan
Menurut Wikipedia, Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.
3)         Umur
Menurut Alisabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Hunclok (1998) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaaanya. Hal ini sebagaian dari pengalaman dan kematangan jiwa.
b.      Faktor Eksternal
1)      Lingkungan
Menurut Nasution (1999) yang dikutip Notoatmodjo (2002) Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada pada cara berfikir seseorang.
2)      Sosial budaya
Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubunganya dengan orang lain, karena hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan.
6.      Kriteria Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006), bahwa pengukuran pengetahuan dapat diperoleh dari kuesioner atau angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat pengetahuan tersebut diatas. Sedangkan kualitas pengetahuan pada masing–masing tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan skoring yaitu:
1)      Tingkat pengetahuan baik bila skore atau nilai 76 – 100 %
2)      Tingkat pengetahuan cukup baik bila skore atau nilai 56 – 75 %
3)      Tingkat pengetahuan kurang baik bila skore atau nilai < 56 %
B.     Antenatal Care
1.      Pengertian Antenatal Care
Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan (Prawirohardjo, 2009).
Antenatal care adalah kunjungan ibu hamil dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan ANC sesuai standar yang ditetapkan. Istilah kunjungan disini tidak hanya mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung ke fasilitas pelayanan, tetapi adalah setiap kontak tenaga kesehatan baik diposyandu, pondok bersalin desa, kunjungan rumah dengan ibu hamil tidak memberikan pelayanan ANC sesuai dengan standar dapat dianggap sebagai kunjungan ibu hamil (Depkes RI, 2008).
2.      Tujuan
Menurut Mansjoer (2005), tujuan ANC adalah:
a.       Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
b.      Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
c.       Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
d.      Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
e.       Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
f.       Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
3.      Frekuensi Kunjungan ANC (Depkes RI, 2002)
a.       Satu kali pada trimester pertama (K1)
b.      Satu kali pada trimester kedua
c.       Dua kali pada trimester ketiga (K4)
4.      Standar Asuhan Kehamilan
a.       Standar 1 Identifikasi Ibu Hamil
Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami dan anggota keluarga agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilanya sejak dini secara teratur (Dewi dan Sunarsih, 2010).

b.      Standar 2 Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal
Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis serta pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan risiko tinggi, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan pelayanan kesehatan, serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya (Dewi dan Sunarsih, 2010).
1)      Anamnesa
Anamnesa adalah medeteksi komplikasi-komplikasi dan menyiapkan kelahiran dengan mempelajari keadaan kehamilan dan kelahiran terdahulu, serta kesehatan umum dan kondisi sosial ekonomi (Dewi dan Sunarsih, 2010)
Menurut Saifuddin, 2006. Anamnesa meliputi :
a)      Riwayat Kehamilan ini
(1)   Usia ibu hamil
(2)   Hari pertama haid terakhir
(3)   Perdarahan per vaginam
(4)   Mual dan muntah
(5)   Masalah/kelainan pada kehamilan sekarang
(6)   Pemakaian obat-obatan (termasuk jamu-jamuan)
b)      Riwayat Obstetri lalu
(1)   Jumlah kehamilan
(2)    Jumlah persalinan
(3)    Jumlah persalinan cukup bulan
(4)    Jumlah persalinan premature
(5)    Jumlah anak hidup
(6)    Jumlah keguguran
(7)    Jumlah aborsi
(8)    Perdarahan pada kehamilan, persalinan , nifas terdahulu
(9)    Adanya hipertensi dalam kehamilan terdahulu
(10)  Berat bayi < 2,5 kg atau berat > 4 kg
(11)  Adanya maslah-masalah selama kehamilan, persalinan, nifas terdahulu
c)      Riwayat Penyakit
(1)         Jantung
(2)         Tekanan darah tinggi
(3)         Diabetes mellitus
(4)         TBC
(5)         Pernah operasi
(6)         Alergi makanan/obat
(7)         Ginjal
(8)         Asma
(9)         Epilepsi
(10)     Penyakit hati
(11)     Pernah kecelakaan
d)     Riwayat Sosial Ekonomi
(1)      Status perkawinan
(2)      Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan
(3)      Jumlah keluarga dirumah yang membantu
(4)      Siapa pembuat keputusan dalam keluarga
(5)      Kebiasaan makan dan minum
(6)      Kebiasaan merokok, menggunakan obat-obatan dan alkohol
(7)      Kehidupan seksual
(8)      Pekerjaan dan aktivitas sehari-hari
(9)      Pilihan tempat untuk melahirkan
(10)  Pendidikan
(11)  Penghasilan
2)      Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik dan laboratorium adalah untuk mendeteksi komplikasi-komplikasi kehamilan. Bidan harus melakukan pemeriksaan yang nyata agar dapat menurunkan angka kematian ibu dan janin (Dewi dan Sunarsih, 2010).
a)      Pemeriksaan Fisik Umum
(1)   Kunjungan pertama
(a)    Tekanan darah
(b)   Suhu badan
(c)    Nadi
(d)   Pernafasaan
(e)    Berat badan
(f)    Tinggi badan
(g)   Muka
(h)   Mulut dan gigi
(i)     gondok
(j)     Tulang belakang/punggung
(k)   Payudara
(l)     Perut
(m) Ektermitas
(n)   Costovertebral Angel Tenderness (CVAT)
(o)   Kulit
(2)   Kunjungan berikut
(a)    Tekanan darah
(b)   Berat badan
(c)    Edema
(d)   Masalah dari kunjungan pertama
b)      Pemeriksaan Luar
Pada setiap kunjungan
(1)   Mengukur tinggi fundus uteri
(2)   Palpasi untuk menentukan letak janin (atau lebih 28 minggu)
(3)   Auskultasi detak jantung janin
c)      Pemeriksaan Dalam
(1)   Pada kunjungan pertama
(a)    Pemeriksaan vulva/perineum untuk :
(i)                 Varises
(ii)               Kondiloma
(iii)             Edema
(iv)             Hemoroid
(v)               Kelainan lain
(b)   Pemeriksaan dengan spekulum untuk menilai :
(i)                 Servik
(ii)               Tanda-tanda infeksi
(iii)             Cairan dari ostium uteri
(c)    Pemeriksaan untuk menilai :
(i)                 Servik
(ii)               Uterus
(iii)             Adneksa
(iv)             Bartoline
(v)               Skene
(vi)             Uretra
(vii)           Bila usia kehamilan < 12 minggu
d)     Laboratorium
(1)   Darah
(a)    Hemoglobin
(b)   Glukosa
(c)    VDRL
(2)   Urin
(a)    Warna, bau, kejernihan
(b)   Protein
(c)    Glukosa
(d)   Nitrit/LEA
3)      Pemantauan Antenatal
a)      Frekuensi pelayanan Antenatal oleh Depkes RI ditetapkan 4 kali kunjungan ibu hamil dalam pelayanan Antenatal, selama kehamilan dengan ketentuan sebagai berikut:
(1)   Satu kali pada trimester pertama (K1).
(2)   Satu kali pada trimester dua.
(3)   Dua kali pada trimester ketiga (K4)
Tabel 2.1 Distribusi Pemeriksaan kehamilan
Kunjungan
Waktu
Alasan
Trimester I
Sebelum 14 minggu
a.  Mendeteksi masalah yang dapat ditangani sebelum membahayakan jiwa
b.  Mencegah masalah, missal: tetanus neonatal, anemia, kebiasaaan tradisional yang berbahaya.
c.  Membangun hubungan saling percaya.
d. Memulai kesiapan kelahiran dan kesiapan menghadapi komplikasi.
e.  Mendorong perilaku sehat (nutrisi, kebersihan, olahraga, seks, dsb).
Trimester II
14-28 minggu
a.    Sama dengan trimester I ditambah kewaspadaan khusus terhadap hipertensi kehamilan (deteksi gejala preeklamsi, pantau TD, evaluasi edema, proteinuria).
Trimester III
28-36 minggu

Setelah 36 minggu
a.    Sama, ditambah: deteksi kehamilan ganda
b.   Sama, ditambah: deteksi kelaianan letak atau kondisi yang memerluka persalinan di RS.

b)      Pelayanan standar minimal termasuk “7 T” (Saefuddin, 2006).
(1)   (Timbang) berat badan
(2)   Ukur (Tekanan) darah
(3)   Ukur (Tinggi) fundus uteri
(4)   Pemberian imunisasi (Tetanus Toxoid)
(5)   Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan
(6)   Tes terhadap penyakit menular sexual
(7)   Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
c)      Memantau tumbuh kembang janin (Saifuddin, 2006).
   Tabel 2.2 Pemantauan tumbuh kembang janin (nilai normal)
Usia Kehamilan
Tinggi Fundus
Dalam cm

Menggunakan petunjuk-petunjuk badan
12 minggu
-
Teraba diatas simfisis pubis
16 minggu
-
Di tengah antara simfisis pubis dan umbilicus
20 minggu
20 cm (± 2 cm)
Pada umbilicus
22-27 minggu
Usia kehamilan dalam minggu = cm (± 2 cm)
-
28 minggu
28 cm (± 2 cm)
Di tengah umbilikus dan prosesus simfoideus
29-35 minggu
Usia kehamilan dalam minggu = cm (± 2 cm)
-
36 minggu
36 cm (± 2 cm)
Pada prosesus simfoideus

d)     Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) (Saifuddin, 2006).
Tabel 2.3 Jadwal imunisasi tetanus toxoid (TT)
Antigen
Interval
Lama Perlindungan
% Perlindungan
TT 1
Pada kunjungan ANC pertama
-
-
TT 2
4 minggu setelah TT 1
3 tahun
80%
TT 3
6 bualan setelah TT 2
5 tahun
95%
TT 4
1 tahun setelah TT 3
10 tahun
99%
TT 5
1 tahun setelah TT 4
25tahun
/seumur hidup
99%

4)      Tanda bahaya kehamilan
a)      Perdarahan pervaginam
b)      Sakit kepala yang hebat, menetap dan tidak hilang
c)      Perubahan visual secara tiba-tiba (mata berkunang-kunang)
d)     Pembengkakan pada wajah dan tangan
e)      Sakit abdomen atau nyeri pada ulu hati yang hebat
f)       Pergerakan bayi berkurang tidak seperti biasanya atau bahkan tidak ada pergerakan (Saifuddin, 2006)
5)      Resiko tinggi kehamilan
a)      Umur < 16 atau > 35 tahum
b)      Tinggi badan < 145 cm
c)      Jarak kehamilan < 2 tahun atau > 10 tahun
d)     Pernah melahirkan > 4 kali
e)      Riwayat obstetri yang buruk, seperti kelainan letak, keguguran, bayi lahir mati, bayi kurang atau lebih bulan, persalinan dengan vakum atau oaperasi Caesar.
f)       Riwatat penyakit yang mempengaruhi kehamilan
g)      Preeklamsi dan eklamsia
h)      Hamil kembar (gemelli)
i)        Kehamilan dengan kelainan letak (letak sungsang/lintang)
6)      Penyuluhan bagi ibu hamil
a)      Gizi
Dalam kehamilan wanita  mengalami peningkatan Basal Metabolisme Rate (BMR) 15-20% dan keadaan normal sehingga untuk menyeimbangkan antra kalori yang keluar dan yang masuk maka ibu hamil perlu makan 1-2 piring lebih banyak dibanding sebelum hamil. Karena ibu hamil mengalami penambahan peredaran darah yaitu pengenceran darah (hemodulusi) sehingga ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi seperti kacang-kacangan serta sayuran yang berwarna hijau tua (Kusmiyati, dkk, 2008).
b)      Perawatan payudara
Dua bulan terahir dilakukan perawatan dengan pemijatan (massage) kolostrum dikelurkan untuk mecegah penyumbatan, untuk mencegah putting susu kering dan mudah pecah, muka putting susu dan aerola payudara dirawat baik. Bila putting susu masuk kedalam, hal ini diperbaiki dengan jalan menari keluar. Perawatan payudara bertujuan untuk memelihara kebersihan payudara, melenturkan dan menguatkan putting susu dan mengeluarkan putting susu yang masuk kedalam (Kusmiyati, dkk, 2008).
c)      Kebersihan diri
1)      Mandi sekurang-kurangnya 2 kali/hari
2)      Gosok gigi dengan pasta gigi minimal 2 kali/hari yaitu setelah makan pagi dan makan malam sebelum tidur
3)      Jika muntah segera berkumur
d)     Aktivitas dan istirahat
Ibu hamil boleh melakukan kegiatan/aktifitas fisik biasa selama tidak terlalu melelahkan. Ibu hamil dapat melakukan pekerjaan seperti menyapu, mengepel, masak dan mengajar. Ibu hamil dianjurkan untuk bebaring 1-2 jam pada siang hari untuk melepas lelah agar kesehatan ibu dan janinnya tetap terjaga. (kusmiyati, dkk, 2008)
e)      Senam hamil
Senam hamil dimulai dari umur kehamilan setelah 22 minggu, senam hamil bertujuan untuk mempersiapkan dan melatih otot –otot sehingga dapat berfungsi secara optimal saat persalinan normal serta mengimbangi perubahan titik berat tubuh.
Syarat senam hamil yaitu, telah dilakukan pemeriksaan kehamilan oleh dokter atua bidan, latihan dilakukan setelah kehamilan 22 minggu, latihan dilakukan secara teratur dan disiplin, sebaiknya latihan dilakukan dirumah sakit atau klinik bersalin dibawah pimpinan instruktur senam hamil.(Kusmiyati, dkk, 2008)
f)       Ketidaknyamanan dalam kehamilan
Ketidaknyamanan kehamilan biasanya terjadi pada awal dan ahir kehamialan yaitu seperti, sakit kepala, rasa mual dan muntah (morning sickness), mengidam, keringat bertambah, kelelahan, hidung tersumbat/berdarah, mencret/Diare, sering buang air kencing, gatal-gatal, keputihan yang tidak berbau busuk, konstipasi atau sembelit, kram pada kaki, nafas sesak, dan pengeluaran air liur yang berlebihan (hipersalivasi) (Dewi dan Sunarsih, 2010)
c.       Standar 3 Palpasi Abdominal
Bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan bila umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah janin, dan masuknya kepala janin kedalam rongga panggul untuk mencari kelainan, serta melakukan rujukan tepat waktu (Dewi dan Sunarsih, 2010).
1)      Presentasi
Presentasi adalah bagian tubuh vetus yang terdapat dibagian terbawah jalan lahir (Dewi dan Sunarsih, 2010).
(a)    Letak lintang/ oblik, presentasi dapat berupa bahu atau punggung.
(b)   Letak memanjang, presentasi dapat berupa kepala, atau sungsang/presentasi bokong.
(c)    Letak kepala, kemungkinan dapat berupa presentasi belakang kepala, puncak kepala, dahi atau muka, tergantung pada sikap kepala kebadan janin.
2)      Posisi
Hubungan antara bagian tertentu fetus (ubun-ubun kecil, dagu, mulut, sakrum, punggung) dengan bagian kiri, kanan, depan, belakang, atau lintang terhadap jalan lahir (Dewi dan Sunarsih, 2010).

3)      Palpasi
Palpasi adalah untuk menentukan tinggi fundus uteri (pada kehamilan muda dilakukan dengan palpasi bimanual dalam, dapat diperkirakan ukuran uterus, pada kehamilan lebih besar dapat diukur dengan pita sentimeter, jarak antara fundus uteri  dengan tepi atas simfisis os pubis (Dewi dan Sunarsih, 2010)
Palpasi pemeriksaan Leopold dilakukan secara sistematika :
(a)    Leopold I
Menentukan tinggi fundus dan meraba bagian janin yang di fundus dengan kedua telapak tangan.
(b)   Leopold II
Kedua teklapak tangan menekan uterus dari kiri-kanan, jari kearah kepala pasien, mencari bagian besar (biasanya punggung) janin, atau mungkin bagian keras bulat (mungkin kepala) janin.
(c)    Leopold III
Satu tangan meraba bagian janin apa yang terletak dibawah (di atas simfisis) sementara tangan lainnya menahan fundus untuk fiksasi.
(d)   Leopold IV
Kedua tangan menekan bagian bawah uterus dari kiri-kanan, jari kearah kaki pasien, untuk konfirmasi bagian terbawah janin dan menentukan apakah bagian terbawah janin sudah masuk/melewati pintu atas panggul (biasanya dinyatakan dengan satuan x/5).
d.      Standar 4 Pengelolaan Anemia pada Kehamilan
Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Dewi dan Sunarsih, 2010).
Umumnya ibu hamil dianggap anemik  jika kadar hemoglobin dibawah 11 g/dl atau hematokrit kurang dari 33%. Konsentrasi Hb kurang dari 11g/dl pada ahir trimester pertama dan <10g/dl pada trimester kedua dan ketiga diusulkan menjadi batas bawah untuk mencari penyebab anemia dalam kehamila (Prawirihardjo, 2009)
Tabel 2.4 Nilai batas untuk anemia pada perempuan
Status Kehamilan
Hemoglobin (g/dl)
Hematokrit (%)
Tidak Hamil
12,0
36
Hamil
a.       Trimester 1
b.      Trimester 2
c.       Trimester 3
d.       

11,0
10,5
11,0

33
32
33

Untuk mencegah anemia pada kehamilan ibu diberikan suplemen mikronutrien yaitu tablet yang mengandung FeSO4 320 mg (= zat besi 60 mg) dan asam folat 500 ug sebanyak 1 tablet/hari segera setelah rasa mual hilang. Pemberian selama 90 hari (3 bualan). Ibu harus dinasehati agar tidak meminumnya bersama teh atau kopi agar tidak menganggu penyerapannya. Ibu dianjurkan mengkonsumsi sayur-sayuran hijau dan kacang-kacangan (Dewi dan Sunarsih, 2010)
e.       Standar 5 Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan
Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilana mengenali tanda dan gejala preeklamsi lainnya, mengambil tindakan yang tepat, dan merujuknya (Dewi dan Sunarsih, 2010).
Hipertensi dalam kehamilan dapat dibagi menjadi dua yaitu, hipertensi karena kehamilan, jika hipertensi terjadi pertama kali sesudah kehamilan 20 minggu, selama persalianan, dan dalam 48 jam pascapersalianan. Hipertensi kronik, jika hipertensi terjadi sebelum kehamilan 20 minggu (Prawirohardjo, 2007).
Tabel 2.5 Klasifikas hipertensi dalam kehamilan
Diagnosis
Tekanan Darah
Tanda Lain
1.Hipertensi karena kehamilan
a.    Hipertensi








b.   Preeklamsia Ringan

c.    Preeklamsia Berat






d.   Eklampsia



Kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg atau > 90 mmHg dalam pengukuran berjarak 1 jam atau tekanan darah diastolik sampai 110 mmHg

Idem

Tekanan diastolik > 110 mmHg
Hipertensi


Proteinuria (-)
Kehamialn > 20 minggu






Proteinuria 1+

Proteinuria 2+
Oligouria
Hiperrefleksia
Gangguan Penglihatan
Nyeri epigastrium.

Kejang

2. Hipertensi Kronik
a.       Hipertensi Kronik


b.      Sumperimposed preeklamsia


Hipertensi


Hipertensi Kronik


Kehamilan < 20 minggu

Proteinuria dan tanda-tanda lain dari preeklamsia

f.       Standar 6 Persiapan Persalinan
Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami, dan keluarganya pada trimester ketiga untuk memastikan bahwa persiapan persalinan bersih dan aman, serta suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, di samping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat (Dewi dan Sunarsih, 2010)
Persiapan perslainan adalah rencana tindakan yang dibuat oleh ibu, anggota keluarga dan bidan. Ada lima komponen dalam membuat rencana persalinan yaitu;
1)      Menentukan tempat persalinan
2)      Memilih tenaga kesehatan terlatih
3)      Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan utama tidak ada
4)      Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi kegawatdaruratan.



C.    Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ANC
1. Umur
Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan, semakin bertambah umur tingkat emosi atau taraf kesanggupan seseorang semakin matang. Ibu yang mempunyai usia produktif akan lebih berpikir secara rasional dan matang tentang pentingnya melakukan pemeriksaan kehamilan.
2. Pekerjaan Ibu
Pekerjaan berkaitan dengan aktifitas atau kesibukan ibu. Kesibukan ibu akan menyita waktu sehingga pemenuhan pemeriksaan selama kehamilan berkurang atau tidak dilakukan.
3. Pendidikan
Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi akan memberikan respon lebih rasional daripada mereka yang berpendidikan lebih rendah atau sedang (Notoatmodjo, 2005). Tingginya tingkat pendidikan ibu hamil menyebabkan ibu hamil lebih sering melakukan perawatan antenatal dan memilih untuk memeriksakan diri ketempat yang lebih berkualitas (Dewi dan Sunarsih, 2010).
4. Pendapatan Keluarga
Perilaku kesehatan dipengaruhi oleh latar belakang ekonomi. Bagi yang bersatatus ekonomi tinggi akan semakin mudah dalam memilih pelayanan kesehatan begitu juga sebaiknya (Azwar dan Istarti, 2000). Semakin pendapatan keluarga ibu hamil tinggi semakin sering pula ibu hamil memeriksakan kehamilanya.
5. Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang wanita (BKKBN, 2006). Menurut Prawirohardjo (2009), paritas dapat dibedakan menjadi primipara, multipara dan grandemultipara. Ibu yang pernah melahirkan mempunyai pengalaman tentang ANC, sehingga dari pengalaman yang terdahulu kembali dilakukan untuk menjaga kesehatan kehamilannya.
6. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan pengindaraan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2005), Ketidakmengertian ibu dan keluarga terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan berdampak pada ibu hamil tidak memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan.








D.   
Faktor Internal
1.      Pendidikan
2.      Pekerjaan
3.      Umur

Kerangka Teori
Informasi
Kunjungan ANC
Tingkat Pengetahuan
Ketersediaan tenaga kesehatan
Faktor Ekternal
1.      Lingkungan
2.      Sosial Budaya
 













Gambar 2.1 Kerangka Teori
Sumber : Modifikasi Notoadmodjo (2007), Wawan dan Dewi (2010)


E.     Hipotesis
Ha : Adakah hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan Antenatal care (ANC) di Desa Karangreja Kec. Kutasari Kab. Purbalingga tahun 2011
Ho :  Tidak ada hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan antenatal care (ANC) di Desa Karangreja Kec. Kutasari Kab. Purbalingga tahun 2011.


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep
Variabel Independen                               Variabel Dependen
Kunjungan (ANC)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar